DAFTAR ISI

 

HALAMAN PENGANTAR.. ii

DAFTAR ISI. iv

BAB I  PENDAHULUAN.. 1

1.1.       Latar Belakang Masalah. 1

1.2.       Rumusan Masalah. 2

1.3.       Tujuan. 3

BAB II  PEMBAHASAN.. 4

2.1.       Pengetahuan. 4

2.2.       Kebenaran. 10

BAB III PENUTUP. 12

5.1.       Kesimpulan. 12

5.2.       Saran. 12

DAFTAR PUSTAKA.. 13

BAB I
PENDAHULUAN

 

1.1.      Latar Belakang Masalah

Falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab. yang juga diambil dan bahasa Yunani; philosophia. Kala ini berasal dan dua kata Philo dan Sophia. Philo = lImu atau cinta dan Sophia = kebijaksanaan. Sehingga arti harfiahnya adalah ilmu tentang kebijaksanaan ataupun seseorang yang cinta kebijakan.

Definisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah problem falsafi pula. Tetapi, paling tidak bisa dikatakan bahwa “filsafat” adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. (Irmayanti Meliono, dkk. 2007. MPKT Modul l .Jakarta: Lembaga Penerbitan FEUI. hal. 1). Terlepas dan berbagai definisi yang berusaha menerjemahkan Filsafat secara global. Pada dasarnya Filsafat selain membahas dan menyimpulkan  sesuatu yang menjadi dasar. Filsafat adalah ibu dari segala ilmu yang hadir di bumi ini. Logika dan perasaan meliputi segenap ruang Filsafat, sehingga memerlukan konsentrasi yang lebih untuk memahaminya lebih dan sekedar sebuah ilmu biasa.

Pengontokan kategori Filsafat sebetulnya terjadi belakangan ini. Karena pada intinya pembahasan yang dibahas dalam setiap kategori filsafat, berpegang pada penerjemahan dari dasar pijakan setiap elemen ilmu. Menurut salah satu pemerhati filsafat, bahwa filsafat adalah sebuah ilmu yang membahas mengenai ontologi (keberadaan), epistemonology (sumber atau dasar), dan aksioiogi (nilai atau norma) dan sesuatu. Berdasarkan pijakan itu, dikemudian hari, maka munculah berbagai klasifikasi Filsafat berdasarkan lingkup yang lebih kecil, seperti hadirnya Filsafat Timur atau Filsafat Islam

Menurut M. Amin Abdullah, filsafat bisa diartikan: (1) sebagai aliran atau hasil pemikiran, yakni berupa sistem pemikiran yang konsisten dan dalam tarap tertentu sebagai sistem tertutup (closed system), dan (2) sebagai metode berfikir, yang dapat dicirikan: a) mencari ide dasar yang bersifat fundamental (fundamental ideas), b) membentuk cara berfikir kritis (critical thought), dan c) menjunjung tinggi kebebasan serta keterbukaan intelektual (intelectual freedom). Sebagai sebuah cabang filsafat, kurang lebih sudut pandang inilah, filsafat ilmu melihat ilmu-ilmu sebagai obyek kajiannya. Karenanya filsafat ilmu bisa juga disebut sebagai bidang yang unik, sebab yang dipelajari adalah dirinya sendiri.

Para ahli tampak beraneka ragam dalam memberikan definisi tentang filsafat ilmu, antara lain : Lewis White Beck menulis, “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole.” Peter A. Angeles, sebagaimana dikutip The Liang Gie, menjelaskan bahwa filsafat ilmu merupakan suatu analisis dan pelukisan tentang ilmu dari berbagai sudut tinjauan, termasuk logika, metodologi, sosiologi, sejarah ilmu dan lain-lain. Sementara itu Cornelis A Benyamin mendefinisikan filsafat ilmu sebagai disiplin filsafat yang merupakan studi kritis dan sistematis mengenai dasar-dasar ilmu pengetahuan, khususnya yang berkaitan dengan metode-metode, konsep-konsep, praduga-praduganya, serta posisinya dalam kerangka umum cabang-cabang intelektual. Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat dipahami bahwa filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif, radikal dan mendasar atas berbagai persoalan mengenai ilmu pengetahuan, landasan dan hubungannya dengan segala segi kehidupan manusia.

 

1.2.      Rumusan Masalah

Apakah arti pengetahuan, bagaimana terjadinya pengetahuan dan bagaimana sesuatu dikatakan benar.

1.3.      Tujuan

Mengetahui arti pengetahuan terjadinya pengetahuan dan syarat sesuatu dikatakan benar.

 


BAB II
PEMBAHASAN

 

2.1.       Pengetahuan

Pengetahuan adalah suatu istilah yang dipergunakan untuk  menuturkan apabila seseorang mengenal tentang sesuatu. Suatu hal yang menjadi pengetahuannya adalah selalun terdiri atas unsure yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahuinya itu. Oleh karena itu pengetahuan selalu menuntut adanya  subjek yang mempunyai kesadaran untuk mengetahui tentang sesuatu dan objek yang merupakan sesuatu yang dihadapinya sebagai suatu hal yang ingin diketahuinya. Jadi bisa dikatakan pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perubahan manusia untuk memahami suatu objek yang dihadapinya, atau hasil usaha manusia untuk memahami suatu objek tertentu.

Semua pengetahuan hanya dikenal dan ada di dalam pikiran manusia, tanpa pikiran pengetahuan tidak akan eksis. Oleh karena itu, keterkaitan antara pengetahuan dengan pikiran merupakan sesuatu yang kodrati. Bahm (dalam Rizal Muntansyir dkk, 2001) menyebutkan  ada delapan hal penting yang berfungsi membentuk struktur pikiran manusia, yaitu sebagai berikut:

  1. Mengamati (observasi); pikiran berperan dalam mengamati objek-objek. Dalam melaksanakan pengamatan terhadap objek itu maka pikiran haruslah mengandung kesadaran. Kesadaran adalah sesuatu karakteristik atau fungsi pikiran . kesadaran jiwa ini melibatkan dua unsur penting, yakni kesadaran untuk mengetahui sesuatu dan penampakan suatu objek ini merupakan unsur yang hakiki dalam pengetahuan intuisi. Intuisi senantiasa hadir dalam kesadaran. Sebuah pikiran mengamati apa saja yang menampak. Pengamatan acap kali timbul dari rasa keterikatan pada objek. Dengan demikian pengamatan ini melibatkan pula fungsi-fungsi pikiran yang lain.
  2. Menyelidiki ; keterikatan pada objek dikondisikan oleh jenis-jenis objek yang tampil. Tenggang waktu atau durasi minat seseirang pada objek itu sangat tergantung pada “daya tariknya”. Kehadiran  dan durasi suatu minat bisanya bersaing dengan minat lannya, sehingga paling tidak seseorang memiliki banyak minat perhatian yang terarah. Minat-minat ini ada dalam banyak cara. Ada yang dikaitkan dengan kepentingan jasmaniah, permintaan lingkungan, tuntutan masyarakat, tujuan-tujuan pribadi, konsepsi diri, rasa tanggung jawab, rasa kebebasan bertindak, dan lain-lain. Minat terhadap obkjek cenderung melibatkan komitmen, kadang kala komitmen ini hanya merupakan kelanjutan atau mentertai pengamatan terhadap objek. Minatlah yang membimbing seseorang secara alamiah untuk terlibat ke dalam pemahaman pada objek-objek.
  3. Percaya; manakala suatu objek muncul dalam kesadaran, biasa-nya objek-objek itu diterima sebagai objek yang menampak. Kata percaya biasanya dilawankan dengan keraguan. Sikap menerima sesuatu yang menampak sebagai pengertian yang memadai setelah keraguan, dinamakan kepercayaan.
  4. Hasrat; kodrat hasrat ini mencakup kondisi biologis serta psikologis dan interaksi dialektik antara tubuh dan jiwa. Karena pikiran dibutuhkan untuk aktualisasi hasrat, kita dapat mengatakannya sebagai hasrat pikiran. Tanpa pikiran tidak mungkin ada hasrat. Beberapa hasrat muncul dari kebutuhan jasmaniah seperti nafsu makan, minum, istirahat, tidur, dan lain-lain. Beberapa hasrat juga bisa timbul dari pengertian yang lebih tinggi seperti hasrat diri, keinginan pada objek-objek, pada orang lain, kesenangan pada binatang, tumbuh-tumbuhan, dan proses interaktif. Beberapa hasrat juga bisa timbul dari ketertarikan pada tindakan, pengaruh, pengendalian, dan ketertarikan pada kesenangan dan dalam melupakan penderitaan, ketertarikan pada kehormatan, penghargaan, reputasi, dan rasa keamanan.
  5. Maksud; kendatipun memiliki maksud ketika akan mengobservasi, menyelidiki, mempercayai, dan berhasrat, namun sekaligus perasaannya tidak berbeda atau bakhan terdorong ketika melakukannya.
  6. Mengatur; setiap pikiran adalah suatu organism yang teratur dalam diri seseorang. Pikiran mengatur adalah:
  • Melalui kesadaran yang sudah terjadi. Kesadaran adalah suatu kondi dan fungsi mengetahui bersama;
  • Melalui intusi yakni kesadaran penampakan dalam setiap kehadiran;

Manakala ia mengatasi setiap kehadiran melalui gap ketidaktahuan dalam penampakan untuk menghasilkan kesadaran lebih lanjut seperti rasa bangun tidur;

  • Melalui penggilan untuk memunculkan objek, dan berperan serta dalam pembentukan objek-objek ini dari sesuatu yang mendorong untuk diatur melalui otak;
  • Melalui pengingatan dan mendukung penampakan pada objek-objek yang hadir, minat, dan proses;
  • Melalui pengantisipasian, peramalan, dan menjadikan kesadaran terhadap objek-objek yang diramalkan; generalisasi dengan mencatat kesamaan di antara berbagai objek dan menyatakan dengan tegas tentang kesamaan itu.
  • Melalui proses
  1. Menyesuaikan; menyesuaikan pikiran sekaligus melakukan pembatasan-pembatasan yang dibebankan pada pikiran melalui kondisi keberadaan yang tercakup dalam otak dan tubuh di dalam fisik, biologis, lingkungan sosial dan cultural dan keuntungan yang terlihat pada tindakan, hasrat, dan kepuasan.
  2. Menikmati; pikiran-pikiran mendatangkan keasyikan. Orang yang asyik dalam menekuni suatu persoalan, ia akan menikmati itu dalam pikirannya.

 

Terjadinya Pengetahuan

Masalah terjadinya pengetahuan adalah masalah yang amat penting dalam epistimologi, sebab jawaban terhadap terjadinya pengetahuan maka seseorang akan berwarna pendangan atau faham filsafatnya. Jawaban yang paling sederhana tentang terjadinya pengetahuan ini apakah berfilsafat a priori atau a posteori. Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang terjadi tanpa adanya atau melalui pengalaman, baik pengalaman indra maupun pengalaman batin. Adapun pengetahuan a posteori adalah pengetahuan yang terjadi karena adanya pengalaman. Dengan demikian pengetahuan ini bertumpu pada kenyataan objektif. (Abbas Hamami M., 1982, hlm. 11).

Sebagai alat untuk mengetahui terjadinya pengetahuan menurut John Hospers dalam bukunya An Introduction to Philosophical Analysis mengemukakan ada enam hal, yaitu sebagai berikut:

  1. Pengalaman indra (sense of experience)

Orang sering merasa pengindraan merupakan alat yang paling vital dalam memperoleh pengetahuan. Memang dalam hidup manusia tampaknya pengindraan adalah satu-satunya alat untuk menyerap segala sesuatu objek yang ada di luar diri manusia. Karena terlalun menekankan pada kenyataan, paham demikian dalam filsafat disebut dengan ‘realisme’. Realism adalah sesuatu paham yang berpendapat bahwa semua yang dapat diketahui adalah hanya kenyataan. Jadi, pengetahuan berawal mula dari kenyataan yan g dapat diidrai. Tokoh pemula pandangan ini adalah Aristoteles, yang berpendapat bahwa pengetahuan terjadi bila subjek diubah di bawah pengaruh objek, artinya bentuk-bentuk dari dunia luar meninggalkan bekas0bekas dalam kehidupan batin. Objek masuk dalam diri subek melalui persepsi indra (sensasi). Yang demikian ini ditegaskan pula oleh Aristoteles yang berkembang pada abad pertengahan adalah Thomas Aquinas yang mengemukakan bahwa tiada sesuatu yang dapat masuk lewat ke dalam akal yang tidak ditangkap oleh indra.

Jadi, dapat disimpulan bahwa pengalaman indra merupakan sumber pengetahuan yang berupa alat-alat untuk menangkap objek dari laur diri manusia melalui kekuatan indra. Kekhilafan akan terjadi apabila ada ketidaknormalan di antara alat-alat itu.

  1. Nalar (Reason)

Nalar adalah salah satu corak berpikir dengan menggabungkan dua pemikiran atau lebih dengan maksud untuk mendapat pengetahuan baru. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam masalah ini adalah tentang asas-asas pemikiran berikut:

  1. Principium Contradictionis, maksudnya adalah bila terdapat dua pendapat yang bertentangan, tidak mungkin kedua-duanya benar dalam waktu yang bersamaan atau dengan kata lain pada subjek yang sama tidak mungkin terdapat dua predikat yang bertentangan pada satu waktu. Asas ini biasa disebut sebagai asas pertentangan.
  2. Principium Tertii Exclusi, yaitu pada dua pendapat yang berlawanan tidak mungkin keduanya benar dan tidak mungkin keduanya salah. Kebenaran hanya terdapat satu di antara kedua itu, tidak perlu ada pendapat yang ketiga. Asas ini biasa disebut sebagai asas tidak adanya kemungkinan ketiga.
    1. Otoritas (Authority)

Otoritas adalah kekuasaan sah yang dimiliki oleh seseorang dan diakui oleh kelompoknya. Otoritas menjadi salah satu sumber pengetahuan, karena kelompoknya memiliki pengetahuan melalui seseorang yang mempunyai kewibawaan dalam pengetahuannya. Pengetahuan yang diperoleh melalui otoritas ini biasanya tanpa diuji lagi karena orang telah menyampaikannya mempunyai kewajiban tertentu.

Jadi  sebagai kesimpulan bahwa pengetahuan yang terjadi karena adanya otoritas adalah pengetahuan yang terjadi melalui wibawa seseprang sehingga orang lain mempunyai pengetahuan.

  1. Intuisi (Intuition)

Intuisi adalah kemampuan yang ada pada diri manusia yang berupa  proses kejiwaan dengan tanpa suatu rangsangan atau stimulus mampu untuk membuat pernyataan yang berupa pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh melalui intusi tidak dapat dibuktikan seketika  atau melalui kenyataan karena pengetahuan ini muncul tanpa adanya pengetahuan lebih dahulu. Dengan demikian sesungguhnya peran intuisi sebagai sumber pengetahuan karena intuisi merupakan suatu kemampuan yang ada dalam diri manusia yang mampu melahirkan pernyataan-pernyataan yang berupa pengetahuan.

  1. Wahyu (Revelation)

Wahyu adalah berita yang disampaikan oleh Tuhan kepada nabi-Nya untuk kepentingan umatnya. Kita mempunyai pengetahuan melalui wahyu, karena ada kepercayaan tentang sesuatu yang disampaikan itu. Seseorang yang mempunyai pengetahuan melalui wahyu secara dogmatik akan melaksanakan dengan baik. Wahyu dapat dikatakan sebagai salah satu sumber pengetahuan, karena kita mengenal sesuatu dengan melalui kepercayaan kita.

  1. Keyakinan (Faith)

Keyakinan adalah kemampuan yang ada pada diri manusia yang diperoleh melalui keprcayaan. Sesungguhnya antara sumber pengetahuan yang berupa wahyu dan keyakinan ini sangat sukar untuk dibedakan secara jelas, karena keduanya menetapkan bahwa alat lain yang dipergunakannya adalah kepercayaan. Perbedaannya barangkali jika keyakinan terhadap wahyu yang secara dogmatic diikutinya adalah peraturan yang berupa agama. Adapun keyakinan melulu kemampuan kejiwaan manusia yang merupakan pematangan dari kepercayaan. Karena kepercayaan itu bersifat dinamis mampu menyesuaikan dengan keadaan yang sedang terjadi. Adapun keyakinan sangat statis, kecuali ada bukti=bukti baru yang akurat dan cocok untuk kepercayaannya.

Menurut Al –Kindi pengetahuan manusia dibagi menjadi tiga yaitu :

  1. Pengetahuan indrawi

Pengetahuan ini terjadi langsung ketika orang mengamati suatu objek material dan dalam proses pengamatan tanpa tenggang waktu atau terjadi secara spontan dan tanpa upaya berpindah imajinasi  kemudian ke tempat penampunganya yang disebut hafizah. Pengetahuan dengan jalan ini  selalu dalam keadaan menjadi, bergerak, berlebih kurang kuantitasnya dan berubah-ubah kualitasnya.

  1. Pengetahuan Rasional

Pengetahuan tentang sesuatu yang didapat dan diperoleh dengan mempergunakan akal bersifat universal, tidak persial, bersifat immaterial. Objeknya bukan individu, tetapi genus dan spesies. Orang mengamati manusia sebagai yang diamati itu bersifat materi (jangkung, pendek, kulit hitam, bertangan, berkaki, dan sebagainya), dan orang tersebut mengamati manusia dengan akal pikirannya/menyelidiki hingga memperoleh suatu kondisi  yaitu manusia adalah mahluk yang berpikir.

  1. Pengetahuan israqi

Pengetahuan yang langsung diperoleh dari pancaran nur Illahi. Pengetahuan seperti ini diperoleh oleh para Nabi dengan tanpa upaya, tanpa bersusah payah, terjadi karena kehendak Allah semata-mata, dengan jalannya itu Allah membersihkan jiwa mereka dan mempersiapkan jiwa mereka dalam untuk menerima  kebenaranNya. Pengetahuan ini khusus bagi dan diturunkan oleh Allah kepada para Nabi yang dipilih-Nya.

Contoh : dalam Al-Quran surat Yasin ayat 78-82; Suatu pernyataan yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW; “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah membusuk?” segeralah Tuhan menurunkan wahyu sebagai  jawabannya; “Katakanlaj; yang mengetahui segala kejadian. Dia yang menjadi bagimu api daripadanya. Tindakan yang telah menjadikan langit dan bumi sanggup menciptakan serupa itu? Tentu saja, karena Dia Maha Pencipta, Maha Tahu. Bila Dia menghendaki sesuatu cukuplah Dia perintahkan: Jadilah, maka ia pun menjadi.

Pengetahuan di sini sangat sukar untuk dibuktikan dengan akal. “Pengetahuan Israqi tersebut juga selain nabi pun mungkin dapat memperolehnya tetapi derajatnya di bawah yang diperoleh oleh para nabi. Hal ini mungkin terjadi pada orang-orang yang suci jiwanya”.

 

 

2.2.      Kebenaran

Dalam kamus umum Bahasa Indonesia (oleh Purwadarminta), ditemukan arti kebenaran, yaitu:

  1. Keadaan yang benar (cocok dengan hal atau keadaan sesungguhnya);
  2. Sesuatu yang benar (sungguh-sungguh ada, betul demikian halnya);
  3. Kejujuran, ketulusan hati;
  4. Selalu izin, perkenanan;
  5. Jalan kebetulan.

Menurut Ibnu Thufail melalui karangannya Hayy bin Yaqdhan ingin mengemukakan kebenaran-kebenaran antara lain:

  1. Urutan-urutan tangga makrifat (pengetahuan) yang ditempuh oleh akal, dimulai dari objek-objek indrawi yang  khusus sampai kepada pikiran-pikiran universal.
  2. Tanpa pengajaran dan petunjuk, akal manusia bisa mengetahui wujud Tuhan, yaitu dengan melalui  tanda-tandanya pada mahluk-Nya, dan menegakkan dalil-dalil atas wujud-Nya itu.
  3. Akal manusia ini kadang-kadang mengalami ketumpulan dan ketidakmampuan dalam mengemukakan dalil-dalil pikiran, yaitu ketika hendak menggambarkan ke-azalian mutlak, ketidakakhiran zaman, qadim huduts (baru) dan lain-lain yang sejenis dengan itu.
  4. Baik akal menguatkan qadimnya alam atau kebaruannya, namun kelanjutan dari kepercayaan tersebut adalah satu juga, yaitu adanya Tuhan.
  5. Manusia dengan akalnya sanggup mengetahui dasar-dasar keutamaan dan dasar-dasar ahklak yang bersifat amali dan kemasyarakatan serta berhiaskan diri dengan keutamaan dasar akhlak tersebut, disamping menundukkan keinginan-keinginan badan kepada hukum pikiran tanpa melalaikan hak badan, atau meninggalkannya sama sekali.
  6. Apa yang diperintahkan oleh syariat Islam, dan apa yang diketahui oleh akal yang sehat dengan sendirinya, berupa kebenaran, kabaikan dan keindahan dapat bertemu kedua-duanya dalam satu titik, tanpa diperselisihkan lagi.

Pokok dari semua hikmah ialah apa yang telah ditetapkan oleh syara, yaitu mengarahkan pembicaraan kepada orang lain menurut kesanggupan akalnya tanpa membuka kebenaran dan rahasia-rahasia filsafat kepada mereka. Juga pokok pangkal segala kebaikan ialah menetapi batas-batas syara dan meninggalkan pendalaman sesuatu.

Ibnu Thufail membagi perkembangan alam pikiran manusia menuju hakikat kebenaran itu ke dalam enam bagian:

(1)   Dengan cara ilmu Hayy bin Yaqdhan, yaitu dengan kekuatan akalnya sendiri, memperhatikan perkembangan alam mahluk itu bahwa tiap-tiap kejadian mesti ada yang menyebabkannya.

(2)   Dengan cara pemikiran Hayy bin Yaqdhan terhadap teraturnya peredaran benda-benda besar di langit seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang.

(3)   Dengan memikirkan bahwa puncak kebahagiaan seseorang itu ialah mempersiapkan adanya wajibal-wujud Yang Maha Esa.

(4)   Dengan memikirkan bahwa manusia ini adalah sebagian saja dari mahluk hewani, tetapi dijadikan Tuhan untuk kepentingan-kepentingan yang lebih tinggi dan  utama dari hewan.

(5)   Dengan memikirkan bahwa kebahagiaan manusia dan keselamatannya dari kebinasaan hanyalah terdapat pada pengekalan penyaksiannya terhadap Tuhan Wajibal-wujud.

(6)   Mengakui bahwa manusia dan alam mahluk ini fana dan semua kembali kepada Tuhan.